Friday, 27 April 2012


BUNGA KERTAS DI LAMAN EMAK

Sudah kucium ubin dingin dilantai sejadah
di halaman rumah emak tumbuh beratus bunga kertas
terdampar kehijauan padang rumput yang rapi
pada sebuah pohon kertas kembali kutulis pesan hati
tentang kedatangan syadu dipagi raya ini
yang menuntun satu keluarga ke satu keluarga
kuburan dihatiku tanpa nesan

Sudah kucium tangan emak pohon ribuan kemaafan segala dosa
sudah kucium tangan suami mohon kemaafan dan keredhaanmu
bersaksikan pusara ayahanda tercinta
air mata mengalir dalam hati
menanti dan terus menanti
wajah manis bersimpuh menyusun jari
seperti masa dulu-dulu yang penuh bahagia

Deru kenderaan di sepanjang jalan ini terus mengepulkan asap
menerbangkan debu ke langit biru hatiku
sudah kucium ubin dingin dilantai sejadah
bagai sejuta hati yang tertoreh pada pohon kertas
bunga-bunganya berguguran bagai digoncang
yang digores oleh jemari tangan gemetar dirumah emak
"Ya Rahman, begitu dalam luka mengangkat doa
perkenankan rintihanku kembali berkilau dalam harapan
memungut titisan air mata rinduku pada yang satu....

Duhai anakku...
keras hatimu
membiarkan air mata mama
berguguran bagai bunga-bunga kertas
dilaman emak.......


Mama
HakCipta© 5 September 2011
(sempena menyambut 1 Syawal 1432)