BUNGA KERTAS DI LAMAN EMAK
Sudah kucium
ubin dingin dilantai sejadah
di halaman
rumah emak tumbuh beratus bunga kertas
terdampar
kehijauan padang rumput yang rapi
pada sebuah
pohon kertas kembali kutulis pesan hati
tentang
kedatangan syadu dipagi raya ini
yang menuntun
satu keluarga ke satu keluarga
kuburan dihatiku
tanpa nesan
Sudah kucium
tangan emak pohon ribuan kemaafan segala dosa
sudah kucium
tangan suami mohon kemaafan dan keredhaanmu
bersaksikan
pusara ayahanda tercinta
air mata
mengalir dalam hati
menanti dan
terus menanti
wajah manis
bersimpuh menyusun jari
seperti masa
dulu-dulu yang penuh bahagia
Deru kenderaan
di sepanjang jalan ini terus mengepulkan asap
menerbangkan
debu ke langit biru hatiku
sudah kucium
ubin dingin dilantai sejadah
bagai sejuta
hati yang tertoreh pada pohon kertas
bunga-bunganya
berguguran bagai digoncang
yang digores
oleh jemari tangan gemetar dirumah emak
"Ya
Rahman, begitu dalam luka mengangkat doa
perkenankan
rintihanku kembali berkilau dalam harapan
memungut
titisan air mata rinduku pada yang satu....
Duhai anakku...
keras hatimu
membiarkan air
mata mama
berguguran
bagai bunga-bunga kertas
dilaman
emak.......
Mama
HakCipta© 5 September 2011
(sempena
menyambut 1 Syawal 1432)